14062011, 23:04
Masih tentang tukang pantek. Last edition.
Satu lagi hal menarik yang gw dapet dari pengalaman dengan tukang pantek adalah ketika ngobrol dengan si aki. Waktu itu coffee break (halah!) dan gw lagi ngobrol sama Tulang Nainggolan, mengevaluasi tentang air yang masih baulah, mata bor yang gak mempan mecahin batulah, dan banyak hal. Sampai kemudian si aki dateng. Ikutan nimbrung.
“Iye pak, jadi kalo mo aernye sedep kudu nyediain kopi manis, kopi pait, kembang tujuh rupe, bla-blabla,”kurang lebihnya demikian kata si aki dalam logat campuran betawi-sunda. “Terus kalo udeh bakar menyan sambil bilang: wahai ibu bumi, ini anakmu minta aer yang sedep, dijamin deh tuh sedep aernye,”lanjutnya. Soalnya bumi khan ibu tuh dan langit tuh bapak yang ngelindungi, jadi kite kek netek, minta aer ke ibu, si aki beranalogi.
Mungkin orang bakal memandangnya sebagai perbuatan syirik dan musrik karena percaya dengan hal-hal klenik dan gaib. Bukannya tidak percaya, tapi saya percaya ada bagian di dunia ini yang tidak bisa dijangkau dengan nalar manusia. Waktu belajar bahasa Jawa di SMP saya belajar yang namanya ‘gugon tuhon’. Saya tidak begitu tahu terjemahannya dalam bahasa Indonesia, tapi itu semacam ungkapan dalam masyarakat Jawa yang dipercayai apabila dilanggar akan mendatangkan hal yang kurang baik bagi pelanggarnya maupun orang lain.
Satu contoh ada ungkapan: jangan meludahi sumur entar bisa kualat. Nah, mungkin secara mistik kita percaya ga percaya, tapi secara logika ada benarnya. Sumur sebagai sumber air adalah sumber kehidupan masyarakat karena mereka menggunakan air dari sumur untuk air minum, mencuci, mandi, dan lain sebagainya. Dan sudah seharusnya kita menjaga kebersihan sumur (tidak meludahi sumur).
Itu satu contoh, dan masih banyak lagi contoh-contoh lain. Seperti: tidak boleh menduduki bantal, perempuan dilarang menyapu pada malam hari, dsb.
Si aki mungkin generasi terakhir yang meyakini hal-hal yang demikian. Dan ketakutan saya adalah nilai-nilai seperti ini tidak terwariskan dengan baik kepada generasi penerus. Saya takut kearifan lokal ini digerus oleh keangkuhan modernitas masyarakat kota.
Dalam esai saya ketika melamar beasiswa ke Unhan, di situ saya tuliskan bahwa salah satu faktor penyebab bencana alam adalah manusia. Ketika kearifan lokal seperti gugon tuhon, fengshui, dan sejenisnya dipelihara dengan baik oleh masyarakat mungkin tidak akan ada yang namanya penggundulan hutan yang berdampak banjir dan tanah longsor.
Tapi ya itu tadi, pemerintah, cukong-cukong, dan raja-raja kecil terlalu angkuh untuk memahami bahwa bumi adalah ibu. Kenyataannya sekarang, bumi adalah ibu yang mereka perkosa secara bergiliran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar