Naksir Kasir
Iya! Naksir kasir. Sebut saya absurd tapi memang demikianlah adanya, saya sedang naksir kasir. Bukan profesi kasirnya, tapi person yang jadi kasir. Tercatat ada dua orang kasir yang saya taksir,… Okelah, mungkin kata ‘naksir’ terlalu tendensius dan mungkin akan lebih baik kalau kita ganti saja dengan ‘kagumi’. Ada dua orang kasir yang sedang saya kagumi.
Yang pertama adalah kasir alf*mart di dekat rumah. Mbak alf*mart ini, sebut saja demikian karena saya juga tidak tahu namanya, jauh dari cantik. Biasa saja. Terkesan gemuk malah. Kelebihannya, dia putih dan bertanduk. Hehehe, nggak ding! Dia putih, but I think it is nothing to do, errr, I mean you can’t define beauty by color.
Mungkin mbak alf*mart ini tidak memenuhi syarat cantik (physically!). Tapi yang membuat saya punya kesan mendalam terhadap dirinya (halah!) adalah sopan santun dan cara ngomongnya yang halus. She more than knows how to treat her costumers. Ketulusan memancar dari matanya yang besar, hehe. Mungkin cuma perasaan saya saja, tapi setiap kali ketemu mata mbak alf*mart selalu berbinar. Akankah dia merasakan hal yang sama? (watdeziiig!!!)
Mungkin terlalu subyektif dan abstrak, tapi saya dapat merasakan ketulusan mbak alf*mart setiap kali dia menyapa dan melayani pembeli, memperlakukan barang-barang yang dibeli pembeli, memberikan uang kembalian sampai mengucapkan salam dan terima kasih. Bukan sekadar hafalan atau kewajiban, tapi benar-benar ucapan terima kasih yang tulus karena telah mengunjungi tokonya dan berharap bisa bertemu kembali.
Oke. Kasir yang kedua adalah kasir t*gamas Jogja di Jalan Affandi. Waktu itu saya sedang main ke tempat adik saya di Jogja dan ritual saya setiap kali ke Jogja adalah hunting buku. Saya sedang getol-getolnya mencari buku Romo Mangun dan t*gamas menjadi salah satu sumber yang harus dikunjungi. Meski kemudian kecewa karena stok buku Romo Mangun sedang kosong, saya kemudian duduk di satu kursi. Semakin dongkol karena adik saya yang awalnya enggan untuk menemani, akhirnya tenggelam dalam keriaan membaca buku gratis (untung dia tidak membawa laptopnya dan membuat paper di sana, hehe). Sampai saya mendapati satu penampakan malaikat yang kemudian membuat saya bertanya dalam hati, mungkinkah dia sedang tersesat? (cieeeh!)
Mbak t*gamas ini, mari kita sebut dia demikian, tidak cantik (wait, wait, saya jadi heran dengan selera saya tentang wanita?). Benar, dia tidak cantik. Biasa saja. Dengan rambutnya yang digulung ke atas semakin memperlihatkan bahwa dia adalah tipe wanita aktif. Wajahnya yang dicucuri keringat plus sedikit minyak semakin membuatnya terlihat panas. Tapi yang terutama, gigi gingsulnya itu lho, raaaaawwrrrr! Huaaahahahaha!
To be honest, saya menyukai wanita berambut pendek. Entah kenapa, kesannya simple, nggak ribet, praktis, dan ekonomis, hehe. Tapi bener, wanita berambut pendek memiliki eksotika tersendiri. Sedang wanita yang berambut panjang dan digulung, menurut saya, adalah tipe wanita yang pandai menempatkan diri, bisa memilah-milah dan tahu kapan waktunya harus menjadi praktis, kapan harus menjadi anggun.
Hmmm… Membuat saya merenung bahwa tidak (akan) ada satupun wanita yang dapat memenuhi segala karakter dan kriteria yang saya idam-idamkan. Jadi, satu-satunya solusi adalah po-li-ga-mih… huahahahaha, nggak ding! Becanda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar