(Masih) Selasa, 21 September 2010
Tadi, kira-kira jam duaan, hujan turun sangat deras. Deras sekali, seakan-akan dia marah. Padahal tadi pas keluar makan siang matahari sedang panas-panasnya; kalau meminjam istilah teman saya, Ardi, matahari sedang lucu-lucunya, hehehehe (lucu dari Hongkong!).
Saya teringat kejadian kemarin sore. Jiaaah, kejadian..., ya sebenarnya tidak seheboh itu sih tapi menurut saya itu sangat mengena, menohok, menusuk, menghujam jantungku, yeaaah (lebaaay!!).
Seperti biasa, sepulang dari kantor saya dan kakak saya keleleran (umpama kata ini tidak baku, tolong carikan padanannya, please) di depan tipi. Menjelajah dari satu channel ke channel yang lain. Nonton berita, gosip, kuis-kuis yang nggak begitu jelas. Pfuuiiih!
Sampai akhirnya kami menjatuhkan pilihan pada sebuah acara jalan-jalan di salah satu stasiun televisi swasta. Waktu itu yang menjadi obyek jalan-jalan adalah daerah terdepan di bagian utara Indonesia. Setelah membahas tentang Pulau Miangas dan sekitarnya, obyek kemudian beralih ke Pulau Morotai, Maluku Utara.
Sungguh, Pulau Morotai adalah pulau yang sangat indah. Pasir putihnya tidak kalah dengan pantai-pantai yang ada di Bali. Belum lagi pemandangan alamnya yang, beeeugh, saya kasih rate bintang tujuh yang terpercaya deh, biar sama kek puyer, hehehe. Perpaduan antara gunung, bukit, pantai, pohon kelapa dan pohon-pohon lain, pokoknya top-markotop-sip-markosip-cir-gobanggocir. Apalagi pas sunset, uyeeeeee..., ampe horny gue, hehehe. Sampai akhirnya si tukang narasinya bercerita tentang sejarah Pulau Morotai, terutama saat Perang Dunia II. Sebelumnya saya pernah baca tentang Jendral Douglas McArthur dan strategi “lompat kataknya” untuk membendung fasisme Dai Nippon di kawasan Pasifik. Setelah dari Hollandia (Jayapura) kemudian McArthur lompat ke Morotai. Yang membuat saya bingung adalah, kenapa harus Morotai? Kenapa nggak pulau lain? Seberapa strategis Morotai bagi AS sehingga mereka harus merebut Morotai? Seberapa strategis Morotai sehingga Jepang juga mempertahankannya habis-habisan? Entahlah.
Sampai akhirnya AS berhasil merebut Morotai sampai kemudian McArthur benar-benar return ke Filipina dan selanjutnya menerobos terus ke Jepang.
Yang menjadi refleksi bagi saya adalah orang-orang luar, orang-orang yang (menurut saya) berpikiran maju memanfaatkan sedemikian rupa sumber daya yang mereka punya, sekecil apapun itu. Perebutan Pulau Morotai oleh Amerika Serikat menurut saya menghasilkan efek yang sangat dahsyat, baik secara psikologis maupun strategis.
Bertolak belakang dengan pemerintah sekarang ini yang baru koar-koar ketika musuh sudah di depan mata. Sesungguhnya kedaulatan adalah harga mati yang dengan apapun juga tidak bisa ditawar-tawar lagi. Ibarat lo punya anak cewek, diperkosa orang; nggak mungkin lo bilang ‘oh ya udahlah mo gimana lagi’.
Bagaimana bisa berbicara tentang kedaulatan ketika integritas wilayah saja masih belum jelas. Sipadan dan Ligitan seharusnya membuat pemerintah semakin mawas diri dan sadar bahwa ada satu masalah vital yang masih belum terselesaikan.
Masalah sengketa perbatasan dengan malontolol ini juga menjadi salah satu pertanyaan dalam ujian tulis substantif kemlu kemarin. Deklarasi Juanda, pengakuan dunia internasional atas konsep negara kepulauan menurut saya menjadi disguise in blessing bagi pemerintah. Ok, ada acknowledgement dari dunia internasional terhadap negara-negara kepulauan. Tapi ini meninggalkan pekerjaan rumah yang sangat berat bagi pemerintah Republik Indonesia (terutama bagi para diplomat) untuk menegaskan kembali wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Semoga saja para diplomat yang cerdas itu bisa menyelesaikan masalah perbatasan. Sekecil apapun itu, itu punya kita, punya Indonesia!
Jangan ganggu GARUDA yang sedang tidur!