minggu, 31 oktober 2010
(masih di setu)
entahlah,
tapi saya tidak pernah sebersyukur hari ini ketika pulang dari gereja. bagaimana tidak? tidak tahu kenapa tapi pagi ini saya berangkat ke gereja lebih awal. padahal yang sudah-sudah saya selalu terlambat dateng ke gereja.
sampai di gereja, perasaan saya agak-agak nggak enak . saya coba menghibur diri: yah, mungkin karena yang dateng baru beberapa orang saja, jadi kelihatan agak sepi, saya coba menghibur diri. tapi semakin was-was ketika di depan gereja sudah terparkir 1 unit mobil patroli polisi.
deg!
dan benar saja.
ketika saya masuk ke dalam gereja dan duduk di sebelah gereja, kakak saya bilang kalau ada 1 gereja di satu perumahan (masih di daerah situ juga) yang didemo massa. dan di sepanjang ibadah saya cuman bisa parno.
entahlah, mungkin ini hanya naluri.
apalagi pas bubaran gereja saya melihat satu lagi mobil patroli polisi jenis double cabin. padahal di hari minggu yang sudah-sudah hanya seorang polisi saja yang menjaga dan itupun seorang polisi tua yang rambutnya sudah beruban.
but thank God. once again, thank God.
terimakasih karena telah menyertai kami di sepanjang persekutuan tadi pagi. sungguh, saya tidak pernah sebersyukur ini ketika pulang dari gereja.
tabik,
mosreg.
ps: meski belum pernah ke sono, tapi gw jadi berasa idup di texas. 99% outlaw!
Minggu, 31 Oktober 2010
Rabu, 27 Oktober 2010
Kick! [REAL STORY]
Jenuh
Senin, 11 Oktober 2010
"Tolong Jaga Mata Saya Baik-baik..."
Ada seorang wanita buta.Semua orang membenci dia, kecuali kekasihnya.Wanita itu selalu berkata, “Saya akan menikahimu saat saya bisa melihat.”Suatu hari, ada orang mendermakan mata kepada wanita itu. Akhirnya wanita itu dapat melihat. Dengan segera, dia pergi menemui kekasihnya. Tetapi, ketika dia melihat kekasihnya, dia merasa sungguh terkejut karena kekasihnya juga buta.Kekasihnya bertanya, “Sudikah kamu menikah denganku sekarang?” Tanpa sebuah alasan, wanita itu menolak.Kekasihnyapun tersenyum dan berlalu pergi sambil berkata,"Tolong jaga mata saya baik-baik…”
![]() |
| ilustrai oleh informasisehat.files.wordpress.com |
Rabu, 22 September 2010
Diduga Mencuri di Kampus, Mahasiswa Dihakimi Massa
![]() | |
| Benjut.... |
15/07/2010 22:26 | Pencurian
Liputan6.com, Semarang: Kampus Universitas Dian Nuswantoro Semarang, Jawa Tengah, Kamis (15/7), dikejutkan dengan tertangkapnya seorang pencuri yang kepergok menggondol seperangkat komputer. Pelakunya ternyata adalah Beni Triyogantoro, mahasiswa Universitas Negeri Semarang.
Begitu tertangkap, mahasiswa semester 10 tersebut langsung diinterograsi puluhan mahasiswa yang berada di kampus. Dari pengakuan sang pelaku yang juga bekerja sebagai pengantar koran ini, sudah lima kali ia mencuri di tempat yang sama.
Khawatir terus menjadi sasaran amuk mahasiswa penghuni kampus, tersangka akhirnya dibawa ke mobil untuk selanjutnya diserahkan ke Mapolrestabes Semarang.(BJK/YUS)
Begitu tertangkap, mahasiswa semester 10 tersebut langsung diinterograsi puluhan mahasiswa yang berada di kampus. Dari pengakuan sang pelaku yang juga bekerja sebagai pengantar koran ini, sudah lima kali ia mencuri di tempat yang sama.
Khawatir terus menjadi sasaran amuk mahasiswa penghuni kampus, tersangka akhirnya dibawa ke mobil untuk selanjutnya diserahkan ke Mapolrestabes Semarang.(BJK/YUS)
Sumber: Buser SCTV
Mahasiswa PTN Mencuri di Studio TV-KU
Semarang Metro
16 Juli 2010
SEMARANG- Seorang mahasiswa perguruan tinggi negeri (PTN) ternama di Kota Semarang babak belur dihajar massa karena diduga mencuri sejumlah onderdil komputer di Studio TV-KU, Jl Nakula, Semarang Tengah, Kamis (15/7) pukul 06.00. Dia bernama Beny Triyogantoro (25), warga Karangsawo, Semarang Barat. Dari tangan mahasiswa semester 10 yang juga nyambi sebagai loper koran ini, polisi menyita beberapa barang bukti. Di antaranya sebuah hard disk merek Seagate dan motherboard merek Asus.
SEMARANG- Seorang mahasiswa perguruan tinggi negeri (PTN) ternama di Kota Semarang babak belur dihajar massa karena diduga mencuri sejumlah onderdil komputer di Studio TV-KU, Jl Nakula, Semarang Tengah, Kamis (15/7) pukul 06.00. Dia bernama Beny Triyogantoro (25), warga Karangsawo, Semarang Barat. Dari tangan mahasiswa semester 10 yang juga nyambi sebagai loper koran ini, polisi menyita beberapa barang bukti. Di antaranya sebuah hard disk merek Seagate dan motherboard merek Asus.
Salah seorang saksi, Iwan Prasetyo (27) menuturkan, kejadian bermula ketika sejumlah pegawai merasa penasaran karena beberapa kali kehilangan barang-barang berharga. Mereka lantas menjebak dengan cara memasang kamera perekam di ruangan teknik berlokasi di lantai II. Beberapa pegawai pun melakukan pengintaian di ruangan tersebut.
”Tak lama kemudian, pelaku mengantarkan koran ke meja penerima di bagian depan. Setelah itu dia terlihat masuk ke ruangan teknik,” kata Iwan, juga kepala bagian teknik itu.
Beny mengambil hard disk kemudian dimasukkan ke dalam tas sementara motherboard-nya dibawa dengan cara ditutupi koran. Sejumlah pegawai lantas mengejar dan meneriaki ”maling” kepada tersangka. Beny yang berusaha kabur ditangkap di depan Studio TV-KU. Sebelum dibawa ke kantor polisi, ia sempat dihajar sejumlah orang yang merasa kesal dengan ulahnya.
Di hadapan polisi, Beny mengakui mencuri lima kali di lokasi tersebut. Perbuatan nekat itu dia lakukan semenjak menjadi loper koran, akhir Februari 2010. Dia berhasil mencuri sebuah komputer jinjing merek HP, kamera, ponsel dan barang-barang elektronik lainnya. ”Barang-barang hasil curian itu saya jual, uangnya untuk membeli dan upgrade komputer. Saya kecanduan bermain game di komputer,” ujar Beny. (H40, H36-52)
Sumber: suaramerdeka.com
Selasa, 21 September 2010
Morotai
(Masih) Selasa, 21 September 2010
Tadi, kira-kira jam duaan, hujan turun sangat deras. Deras sekali, seakan-akan dia marah. Padahal tadi pas keluar makan siang matahari sedang panas-panasnya; kalau meminjam istilah teman saya, Ardi, matahari sedang lucu-lucunya, hehehehe (lucu dari Hongkong!).
Saya teringat kejadian kemarin sore. Jiaaah, kejadian..., ya sebenarnya tidak seheboh itu sih tapi menurut saya itu sangat mengena, menohok, menusuk, menghujam jantungku, yeaaah (lebaaay!!).
Seperti biasa, sepulang dari kantor saya dan kakak saya keleleran (umpama kata ini tidak baku, tolong carikan padanannya, please) di depan tipi. Menjelajah dari satu channel ke channel yang lain. Nonton berita, gosip, kuis-kuis yang nggak begitu jelas. Pfuuiiih!
![]() |
| photo by halmaherautara.com |
![]() |
| photo by 3.bp.blogspot.com |
![]() |
| photo by virtualtourist.com |
Sampai akhirnya si tukang narasinya bercerita tentang sejarah Pulau Morotai, terutama saat Perang Dunia II. Sebelumnya saya pernah baca tentang Jendral Douglas McArthur dan strategi “lompat kataknya” untuk membendung fasisme Dai Nippon di kawasan Pasifik. Setelah dari Hollandia (Jayapura) kemudian McArthur lompat ke Morotai. Yang membuat saya bingung adalah, kenapa harus Morotai? Kenapa nggak pulau lain? Seberapa strategis Morotai bagi AS sehingga mereka harus merebut Morotai? Seberapa strategis Morotai sehingga Jepang juga mempertahankannya habis-habisan? Entahlah.
![]() |
| photo by koran-jakarta.com |
Yang menjadi refleksi bagi saya adalah orang-orang luar, orang-orang yang (menurut saya) berpikiran maju memanfaatkan sedemikian rupa sumber daya yang mereka punya, sekecil apapun itu. Perebutan Pulau Morotai oleh Amerika Serikat menurut saya menghasilkan efek yang sangat dahsyat, baik secara psikologis maupun strategis.
Bertolak belakang dengan pemerintah sekarang ini yang baru koar-koar ketika musuh sudah di depan mata. Sesungguhnya kedaulatan adalah harga mati yang dengan apapun juga tidak bisa ditawar-tawar lagi. Ibarat lo punya anak cewek, diperkosa orang; nggak mungkin lo bilang ‘oh ya udahlah mo gimana lagi’.
Bagaimana bisa berbicara tentang kedaulatan ketika integritas wilayah saja masih belum jelas. Sipadan dan Ligitan seharusnya membuat pemerintah semakin mawas diri dan sadar bahwa ada satu masalah vital yang masih belum terselesaikan.
Masalah sengketa perbatasan dengan malontolol ini juga menjadi salah satu pertanyaan dalam ujian tulis substantif kemlu kemarin. Deklarasi Juanda, pengakuan dunia internasional atas konsep negara kepulauan menurut saya menjadi disguise in blessing bagi pemerintah. Ok, ada acknowledgement dari dunia internasional terhadap negara-negara kepulauan. Tapi ini meninggalkan pekerjaan rumah yang sangat berat bagi pemerintah Republik Indonesia (terutama bagi para diplomat) untuk menegaskan kembali wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Semoga saja para diplomat yang cerdas itu bisa menyelesaikan masalah perbatasan. Sekecil apapun itu, itu punya kita, punya Indonesia!
Jangan ganggu GARUDA yang sedang tidur!
Koneksi Internet Mati
Selasa, 21 September 2010
![]() |
| source of photo |
Semangat!
Rabu, 11 Agustus 2010
Ayah, Bolehkah Saya Meminjam $10.00?
Seorang laki-laki yang terlambat pulang dari kerja, merasa lelah dan tidak bersemangat, menemukan anak laki-lakinya yang berusia 5 tahun yang sedang menunggu di depan pintu.
"Daddy, bolehkah saya bertanya padamu satu hal?"
"Ya, tentu. Apa itu?" jawab pria itu.
"Ayah, berapa uang yang engkau hasilkan dalam satu jam?"
"Itu bukan urusanmu! Apa yang membuatmu menanyakan hal itu?" kata pria itu sambil marah.
"Saya hanya ingin tahu. Tolonglah beritahu saya?" pinta anak itu.
"Baiklah kalau kamu memaksa, saya menghasilkan $20.00 per jam."
"Oh," jawab anak itu dengan kepala menunduk.
"Daddy, bolehkah saya bertanya padamu satu hal?"
"Ya, tentu. Apa itu?" jawab pria itu.
"Ayah, berapa uang yang engkau hasilkan dalam satu jam?"
"Itu bukan urusanmu! Apa yang membuatmu menanyakan hal itu?" kata pria itu sambil marah.
"Saya hanya ingin tahu. Tolonglah beritahu saya?" pinta anak itu.
"Baiklah kalau kamu memaksa, saya menghasilkan $20.00 per jam."
"Oh," jawab anak itu dengan kepala menunduk.
![]() |
| image by jeremycloward.com |
Dia kemudian melihat ke atas dan berkata, "Ayah, bolehkah saya meminjam $10.00?"
Ayahnya terkejut.
"Jika itu alasannya kamu bertanya berapa uang yang saya hasilkan adalah agar kamu bisa meminjam untuk membeli sebuah mainan tolol atau benda-benda tak berguna, maka pergilah ke kamarmu dan tidurlah. Dan pikirkan kenapa kamu bertingkah bodoh. Saya bekerja keras seharian dan tidak memiliki waktu hanya untuk mainan anak-anak itu."
Anak itu perlahan pergi ke kamarnya dan menutup pintu. Pria itu duduk dan mulai merasa semakin kesal dengan pertanyaan anaknya tadi. Beraninya dia bertanya pertanyaan bodoh hanya untuk mendapat uang. Setelah kira-kira satu jam pria itu mulai tenang, dan mulai berpikir mungkin dia selama ini keras terhadap anaknya. Mungkin ada yang benar-benar dibutuhkan anak itu dengan $10.00 dan dia jarang mengatakannya. Pria itu menuju ke pintu kamar anaknya dan membuka pintu.
"Apa kamu sudah tidur, nak?" dia bertanya.
"Belum ayah, saya masih bangun," jawab anak itu.
"Saya tadi berpikir mungkin tadi saya terlalu keras kepadamu,"kata pria itu,"Tadi adalah hari yang panjang dan saya telah melampiaskannya padamu. Ini $10.00 yang kamu minta."
Anak itu berdiri, merasa senang dan berteriak,"Oh, terimaksih ayah!
"Belum ayah, saya masih bangun," jawab anak itu.
"Saya tadi berpikir mungkin tadi saya terlalu keras kepadamu,"kata pria itu,"Tadi adalah hari yang panjang dan saya telah melampiaskannya padamu. Ini $10.00 yang kamu minta."
Anak itu berdiri, merasa senang dan berteriak,"Oh, terimaksih ayah!
Kemudian ia merogoh bagian bawah bantalnya dan mengeluarkan beberapa uang receh. Pria itu melihat anaknya memiliki uang, mulai terlihat marah lagi. Anak itu perlahan menghitung uangnya, kemudian menatap pria itu.
"Kenapa kamu minta uang kepada ayah kalau kamu sudah punya?" geram si ayah.
"Karena saya belum memiliki cukup uang, tapi sekarang saya sudah," jawab anak itu.
"Ayah saya memilki $20.00 sekarang. Bisakah saya membeli waktumu satu jam?"
"Kenapa kamu minta uang kepada ayah kalau kamu sudah punya?" geram si ayah.
"Karena saya belum memiliki cukup uang, tapi sekarang saya sudah," jawab anak itu.
"Ayah saya memilki $20.00 sekarang. Bisakah saya membeli waktumu satu jam?"
sumber kask.us
Thank for reading,
Jumat, 06 Agustus 2010
..............
Rabu, 14 Juli 2010
Freeport Produksi Uranium Secara Diam-diam
![]() |
| photo by safecom.org.au |
Antara - Rabu, 14 Juli
Jayapura (ANTARA) - Freeport diduga menggali bahan baku uranium secara diam-diam sejak delapan bulan silam, kata Yan Permenas Mandenas S.Sos Ketua Fraksi Pikiran Rakyat Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Papua kepada ANTARA di Jayapura, Selasa, di ruang kerjanya.
"Kegiatan ini dilakukan secara tersembunyi dan telah berlangsung cukup lama," ungkapnya yang juga anggota Komisi C DPRDP.
Ia menambahkan, Freeport telah mencuri hasil kekayaan masyarakat Papua dan membohongi pemerintah dengan hasil tambang yang disalurkan lewat jaringan pipa-pipa bawah tanah.
"Selain emas, uranium juga diproduksi oleh Freeport," tambahnya.
Informasi ini menurutnya, didapatkan dari sejumlah masyarakat dan karyawan Freeport di Timika.
"Selain karyawan dan masyarakat, saya juga mendapat laporan dari sumber yang dapat dipercaya," tandasnya.
Hal ini sangat disayangkan mengingat pajak yang didapatkan dari perusahaan emas terbesar didunia ini, hanya berjumlah Rp30 milyar pada tahun lalu.
Mandenas juga mengeluhkan, bahwa dewan belum bisa bergerak karena terkendala masalah klasik, yaitu belum ada alokasi dana untuk turun ke lapangan.
"Kami belum bisa ke lapangan karena terkendala dana," katanya.
news cited from here.
"Kegiatan ini dilakukan secara tersembunyi dan telah berlangsung cukup lama," ungkapnya yang juga anggota Komisi C DPRDP.
Ia menambahkan, Freeport telah mencuri hasil kekayaan masyarakat Papua dan membohongi pemerintah dengan hasil tambang yang disalurkan lewat jaringan pipa-pipa bawah tanah.
"Selain emas, uranium juga diproduksi oleh Freeport," tambahnya.
Informasi ini menurutnya, didapatkan dari sejumlah masyarakat dan karyawan Freeport di Timika.
"Selain karyawan dan masyarakat, saya juga mendapat laporan dari sumber yang dapat dipercaya," tandasnya.
Hal ini sangat disayangkan mengingat pajak yang didapatkan dari perusahaan emas terbesar didunia ini, hanya berjumlah Rp30 milyar pada tahun lalu.
Mandenas juga mengeluhkan, bahwa dewan belum bisa bergerak karena terkendala masalah klasik, yaitu belum ada alokasi dana untuk turun ke lapangan.
"Kami belum bisa ke lapangan karena terkendala dana," katanya.
news cited from here.
Senin, 12 Juli 2010
Pengamen....
cibitung, selasa, 13 juli 2010
![]() | |||
| photo by bandungdailyphoto.com |
tadi pagi dalam perjalanan ke kantor, pas udah masuk kawasan, dari kejauhan saya melihat suatu peristiwa yg (paling tidak menurut saya) menarik. dari sebuah bus karyawan, keluar seseorang dg menenteng sebuah ketipung. dlm sepersekian detik saya langsung berasosiasi, wah, dia pasti seorang pengamen.
tapi sejurus kemudian saya jadi bingung, lah, bus karyawan kenapa di-amen-in yaaakkk??tumben-tumbenan. mungkin dikiranya bus penumpang kali ya, jawab saya (tanya, tanya sendiri, jawab, jawab sendiri).
tapi sejurus kemudian saya jadi bingung, lah, bus karyawan kenapa di-amen-in yaaakkk??tumben-tumbenan. mungkin dikiranya bus penumpang kali ya, jawab saya (tanya, tanya sendiri, jawab, jawab sendiri).
dan benar saja, ketika jarak hampir dekat dg posisi pengamen itu berdiri, saya melihat ekspresinya yg sedang kebingungan, tengak-tengok kanan-kiri sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal (eh, mungkin beneran gatal ding, hehehehe).
saya cuman bisa ketawa. mungkin di dalam hatinya dia sedang misuh-misuh, jancuk, i 'm in the middle of nowhere....hehehehe.
salam.
salam.
Sabtu, 06 Februari 2010
Review on DJAKARTa Part: Une
Bilamana kita bisa tahu bahwa seseorang adalah pribadi yang baik? Liat aja waktu orang tersebut meninggal; hitung berapa jumlah orang yang datang melayat (terlepas dari berbagai alasan formal tentunya), hitung berapa banyak orang yang bersedih dan meratapi kematiannya.
Saya bersyukur bahwa saya boleh mengenal salah seorang pribadi yang baik itu. Yep…. Beliau adalah nomboru saya (nomboru,Batak; Ind=bibi, Eng=aunt, Jawa=budhe, mbokdhe). Kurang lebih setahun setelah kepergiannya, saya kembali (lagi) ke Jakarta. Beruntung saya bisa kembali bertemu dengan sepupu saya; bercakap-cakap dan menjadi sedih karena harus merajut beliau kembali dalam benak kami masing-masing sambil tertawa formal. Ketawa maksa.
Maka akan menjadi penyesalan terbesar saya seumpama dulu gak ngotot sama ketua jurusan buat bisa magang di Setneg. Belakangan baru nyadar bahwa 30 hari itu adalah jatah terakhir saya dapat bertemu dengan beliau. Tiga puluh hari yang serasa injury time, waktu tambahan untuk mengganti segala ketidaksempatan.
Kalo dipikir-pikir lagi, masa 1 bulan gak bakal cukup untuk mengelaborasi seluruh hidup beliau. Namun saya beruntung karena beliau meninggalkan cukup banyak pieces of puzzle bagi saya untuk menerjemahkan beliau kembali. Menuliskan beliau di dalam setiap putus asa saya. Serpihan-serpihan cermin yang harus saya rangkai untuk saya bisa berkaca, untuk saya bisa mematut diri supaya menjadi orang yang lebih baek.
Melihat nomboru melalui kacamata-30-hari-saya.
Menurut saya nomboru adalah seorang menteri dalam negeri yang sangat baik, hahaha. Nomboru adalah seorang filter yang baik, beliau mampu menjaga stabilitas tanpa harus menjadi represif. Buktinya, anak-anak (sepupu-sepupu saya) sangat respek sekali terhadap kedua orang tuanya, terutama kepada amangboru. Gak pernah saya ngeliat mereka ngotot ato debat kusir ato eyel-eyelan sama orang tua mereka. Apalagi melakukan tindak terorisme ato bahkan separatism (yaiyalaaah, ngapain juga mereka ngelakuin kek gituan?). Yang ada cuman ‘iya mah, iya pah’. Menjadi salut karena ternyata kosmopolitan Jakarta dan dinamikanya gak mampu menembus nilai-nilai yang udah beliau tanamkan kepada mereka. Padahal anything can happen in Jakarta.
Nomboru tuh orangnya adil. Fair. Kalo yang ini mah pengalamannya Kak Sondang, hehehe, si bontot yang paling sering disuruh ini-itu. Tapi enaknya pas nomboru ada makanan ato dapat apa gitu, Kak Sondang pasti yang pertama kali dikasi, hehe.
Nomboru tuh sayang sama ponakannya (iya, saya, hehe :P). Dulu pas masi internship di Setneg khan kudu berangkat pagi-pagi banget tuh karena harus berkejar-kejaran dengan kemacetan Jakarta (yuhuuuu, Jasa Utama 125 Priuk-Blok M. I lop yu pul!). Beliau, pagi-pagi buta, udah bangun dan nyiapin sarapan buat saya. Ya ampun…
Nomboru is the legend. Iye, tanyain aja se-antero Rawa Badak siapa yang gak kenal Bu Hutabarat, hehe… Bayangin aja, udah hampir 60 taon jadi guru di SD Rawa Badak. Jika diasumsikan 1 generasi manusia untuk beranak dan diperanakkan adalah 20 taon, maka paling gak udah ada 3 generasi yang udah diajar sama nomboru. Generasi kakek-anak-cucu. Huahaha, gimana gak legend tuh? Mungkin seisi Rawa Badak pernah diajar sama nomboru kali yeee..??
Ada satu peristiwa yang membuat saya kagum sama nomboru. Waktu itu Sabtu malam. Di luar suasana sangat gaduh, bunyi klakson mobil, motor, dan sepeda (?!) bertalu-talu, haiaah.. Nomboru, dengan membawa tubuh kecilnya, keluar rumah dan bertanya pada beberapa anak muda yang lagi nongkrong di deket sono. Beliau bertanya. ‘Itu, Bu, ada mobil mogok.’ Terus nomboru nyuruh mereka buat bantuin dorong tuh mobil. Eh, ternyata mereka mau. Gak pake protes ato minta apa-apa. Beeugh,…. Mengingat apatisme Jakarta, saya semakin respek sama ‘kesaktian’ nomboru.
![]() |
| photo by static.tvtropes.org |
Dan sekarang beliau telah pergi, eh bukan ding, beliau telah pulang. Duluan.
Berbagi cerita dengan Kak Sondang. Untuk beberapa jenak tersirat penyesalan. Sedih? Pasti. Semua orang datang untuk menengok nomboru, orang baik itu. Dari tukang sayur ampe tukang ojek. Temen-temen arisan, paduan suara ina-ina di gereja, dan masih banyak lagi. Bahkan murid-murid beliau, anak2 SD Rawa Badak pada nangis satu sekolahan pas dikasi tau.
Salah satu keinginan beliau yang belom tercapai adalah….naek busway! Yepp! Naek busway. Karena anak-anaknya pada sibuk kerja, akhirnya sampai akhir hayat keinginannya gak tercapai. Padahal sederhana sekali: naek busway. Ini menjadi permenungan tersendiri buat saya.
Orang tua. Hemph, apa siy yang mereka pengenin? Gak banyak kog ternyata. Cuman pengen ngeliat anak-anaknya sukses dan hidup bener. That’s all. Mereka gak minta dibeliin pesawat ato apa. Cuman itu aja. Jadi inget setiap kali papah saya bilang,’Yang penting kamu jadi orang dulu lah’, dan saya selalu jawab,’Lha emang sekarang bukan orang pah?’. Hehehe..
Jadi nyadar kalo ternyata ampe sekarang saya belom bisa membuat mereka seneng, apalagi bahagia. Eh, pernah ding sekali: tuh, udah jadi sarjana, hehe. Kalo itu mah gak seberapa dibanding dengan apa yang udah, sedang, dan akan terus mereka kasi ke saya. Kalo pake itung-itungan matematis, rata2 umur manusia idup adalah 70 taon. Umur saya 23. Umur bokap 51 tahun. It means gue masi punya kira2 (semoga lebih) 20 taon untuk membuat mereka bahagia. Emang mo bikin apaan? Belom tau, tapi yang pasti mo komit dulu untuk bikin mereka bangga.
Oia, kenapa gue pengen lebih? Biar papah-mamah bisa ngeliat paompu-nya (cucu-cucunya). Yaiyalaah, secara anak-anak gue yang bawa nama bokap gue/oppung mereka. (Sekadar catatan: saya adalah anak laki-laki pertama dari 4 basodara).
Dan keliatannya saya sekarang kudu bergerak! Cepat.
Langganan:
Postingan (Atom)

























