Kamis, 16 Juni 2011

Tukang Pantek #3


11062011, 00:38

Masih tentang tukang pantek. Sekitar dua hari mereka mengerjakan sumur di rumah Lian. Menarik ketika memperhatikan ‘baju dinas’ yang mereka kenakan. Ketika dateng, baju yang mereka pakai dapat dibilang cukup rapi. Kemeja dan celana bahan. Namun ketika hendak mulai ngebor mereka melucuti kemeja dan celana bahan dan menggantinya dengan celana pendek dan kaos yang sudah merka pakai dari rumah.

Satu hal lagi yang menarik adalah ada salah satu dari mereka yang mengenakan kaos bergambar lambang partai sebagai ‘pakaian dinas’ mereka. Kaos partai tersebut bertuliskan nama calon anggota legislatif dan calon presiden yang mereka usung. Bahannya? Tentu saja bukan kaos polo yang mewah itu, melainkan selembar kain tipis (teman saya menyebutnya ‘saringan tahu’) dengan sablon murah yang dikerjakan secara marathon oleh pihak konveksi yang girang karena mendapat order yang gila-gilaan. Ada pula yang berbahan kain parasit yang panas itu.  

saya jadi berpikir. Sekarang 2011 dan pemilu (pilpres) terakhir dilaksanakan pada 2009. Jadi kurang lebih sudah dua tahun pemerintahan yang sekarang berjalan. Dan hasilnya…?

Eng-ing-eng…

Ternyata tidak jauh beda dengan dua tahun kemarin. Mungkin pemerintah akan berkilah,”Tunggu, kita masih berproses dan proses tersebut belum selesai.” Dan berjuta-juta alasan akan mereka lontarkan. Memang kita diajarkan untuk menghargai proses, tapi bukan berarti kita dilarang untuk menuntut hasil. Seharusnya sedari awal, sebelum memutuskan maju untuk RI-1 pemerintah sudah punya konsep yang jelas, visi tentang apa yang akan mereka kerjakan lima tahun ke depan.  Seharusnya pemerintah punya target yang realistis dan bukan malah me-make-up statistik demi narsisme politik. Klaim keberhasilan pembangunan menjadi paradoks ketika kenyataan di lapangan menegasikan semua laporan-laporan yang bikin bapak senang.

Simpulan saya, pemilu adalah sebuah proses politik yang mahal untuk menukarkan nasib rakyat lima tahun ke depan dengan selembar kaos butut.  

Tidak ada komentar: