10062011, 23:44
Masih tentang tukang pantek, dengan setting dan karakter yang sama.
Satu hal yang saya kagumi dari sekelompok tukang pantek ini adalah, di tengah deru genset yang berisik itu mereka masih bisa berkomunikasi tanpa terdistorsi sedikitpun. Semua informasi yang mereka ucapkan terserap dengan baik tanpa perlu berteriak. Padahal pada situasi biasa (normal) saya agak kurang memahami perkataan mereka karena mereka seperti bergumam, bukan berbicara, hehehe. Dengan dialek (seperti) campuran Sunda-Betawi mereka berkomunikasi satu sama lain.
Kemudian menjadi sebuah renungan bagi saya…
Komunikasi vertikal. Dengan Allah. Saya jadi berpikir, apa memang nature manusia seperti ini, tapi yang jelas jamak kita (atau saya) alami ketika sedang ada masalah, merasa sendiri, dan tidak berdaya kita langsung ingat kepada Tuhan yang Empunya hidup. Natural.
Namun ketika genset kebahagiaan berderu kita seolah-olah sulit untuk datang dan berterima kasih kepada Tuhan. Janganpun dateng, inget aja kagak! Ck. Saya kemudian coba memposisikan diri sebagai Allah dan hasilnya, saya tidak terima diperlakukan seperti itu: habis manis sepah dibuang.
Sungguh, betapa Allah Mahasabar!
Adalah luar biasa karena di dalam keberdosaan saya Allah masih mau menyapa saya melalui tukang pantek. Hanya bisa bersyukur karena di dalam kekurangajaran dan ketidaksopanan saya, saya masih diberi kesempatan untuk menikmati kemurahan-Nya.
Thank God.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar