Kamis, 22 September 2011
11:53 AM
Perihal Menjadi Pengajar
Seharusnya mulai minggu depan saya sudah mulai bekerja dan mulai minggu ini mengikuti training. Tapi tidak.
Kemarin saya mengikuti serangkaian tes dan interview untuk menjadi pengajar di LP3ICC di Harapan Indah, Bekasi. Hari sebelumnya, seorang mbak-mbak dari LP3ICC menelfon saya [kira-kira pukul setengah tigaan] mengundang saya untuk tes. “Sekalian siapin bahan buat micro-teaching ya, Mas, materi untuk kelas 12,”ujarnya.
Blaik!
Sebelumnya, menjadi pengajar memang menjadi sebuah momok [jangan diganti huruf vokalnya!] tersendiri bagi saya pribadi. Bukannya apa-apa, tapi yang namanya pengajar, guru, dosen, dan sejenisnya tanggung jawabnya sangat besar. Ini berhubungan dengan pembentukan pola pikir juga karakter seseorang dan akan fatal akibatnya ketika mereka gagal menginspirasi murid-muridnya.
![]() |
| Picture by rewiredinc.blogspot |
Alasan lain, saya takut karma. Loh? Iya. Selama kurleb tujuh belas tahun mengulum bangku pendidikan [dikdasmen 12 tahun, bimbel sekian bulan, kuliah 4 tahun 7 bulan] saya selalu menjadi [yah, katakanlah] “oposisi” bagi orang yang berada di depan kelas. Saya selalu merasa bergairah untuk bertanya dan umpama saya tidak suka dengan pribadi si pengajar saya akan mencoba untuk “menjatuhkannya”. Betapa jahatnya saya.
Life is about revenge and I try hard to stay away from being teacher. Hahaha, licik banget ya sayah ;D
Selama beberapa menit setelah si mbak nelfon pikiran saya menjadi kalut. Malaikat dan iblis seolah berada di kanan kiri saya—tapi Cheryll Tanzil tetap dalam hati saya [hayah!]. “Ambil gak, yah?”pikir saya dengan segala pertimbangan.
Gundah gundala.
Ah, udahlah, ambil aja, putus saya. “Bimbel ini, paling small class yang muridnya cuman beberapa. Lagipula mungkin ini adalah satu stepping stone untuk karir mengajar saya,”saya memotivasi diri sendiri.
Tapi lagi-lagi tidak.
Besoknya [21/9] ketika saya tiba di Harapan Indah salah seorang staf di sana mengatakan bahwa pihaknya membutuhkan seorang new recruit untuk diperbantukan di sebuah SMA negeri di Jakarta Timur. Mereka bekerja sama dengan pihak sekolah dalam hal pendalaman materi, utamanya subyek bahasa Inggris. Jadi semacam les tambahan di sekolah.
Glek! Pantas saja mereka panggil saya. Selama ini saya selalu berpikir muka saya tidak cukup representatif untuk menjadi seorang pengajar. Muka saya terlalu dingin—boleh dibilang terlalu angker. Saya merasa lebih cocok menggantikan Pierce Brosnan jadi James Bond daripada jadi pengajar, hahaha ;D
Pukul sepuluh lebih sedikit tes dimulai. Mister Ade, kepala akademik di sana, mengundang untuk tes pertama. Ooh, personality test, batin saya setelah Mister Ade menjelaskan. Kalau ini mah saya udah tau temperamen saya yang seorang melan flegma. Tapi seiring berjalannya waktu, setelah terakhir kali ikut personality test, saya mendapati temperamen saya yang masih sama tapi satu hal yang menarik adalah ketika mendapati melankolis saya lebih dominan daripada tiga yang lain. Terakhir kali tes, melan dan flegma saya cuma selisih beberapa poin, tapi kali ini melan saya benar-benar dominan [melan 21, flegma 10, sanguine 5, koleris 4]! Tanda-tanda apa ini?!
Saya pernah dengar dari seorang teman bahwa semakin dewasa seseorang seharusnya perbedaan antara keempat temperamen tidak terlalu mencolok. Tapi ga tau, bener gak?
Tes kedua, bahasa Inggris. Bukannya sombong, tapi yang bagian ini emang gampang, serasa ngulang kuliah semester 1, hehe ;D
Tes ketiga, micro-teaching. Nah lho! Meski cuma dilihat oleh satu orang staf pengajar di sana, tetap saja standing in the front of class is quite something. Sesuatu banget, kata Syahrini. Matanya intimidatif, memperhatikan seluruh gerak-gerik saya, seolah-olah menelanjangi saya. Ingin rasanya melompat dan berteriak di depan mukanya,”What the hell are you looking at?!” Hahaha, nggaklah ;D
Grogi? Pasti! Rasanya ingin bergoyang dan menyanyi,”Sembilan bahan pokok di dalam bercinta…” [Eh, bukannya itu Thomas Djorghi?]
Satu hal berharga [let’s say] yang bisa saya dapati dari pengalaman micro-teaching pertama saya adalah bahwa ketika pengajar [entah guru, dosen, tutor, dkk] berdiri di depan kelas, mereka bukan hanya sekadar berdiri. Mereka me-manage kelas. Mereka me-manage siswa. Mereka harus bisa membuat perhatian siswa sepenuhnya tertuju pada mereka, mereka harus bisa merespons setiap hal yang siswa lakukan--entah celetukan, kegaduhan, bahasa tubuh. Dalam sepersekian detik mereka harus tanggap dan [terutama] tahu apa yang harus mereka lakukan. And you know lah, all those things come from experience.
Tes keempat, interview. Biasalah, negosiasi diplomasi basa basi.
Akhirnya saya putuskan untuk tidak terima tawaran mengajar di SMA negeri tersebut. Bukan, bukan takut. Hanya saja saya berpikir, ini terlalu ‘wah’ buat saya. Saya tahu dirilah; saya yang masih ingusan ini, masih hijau, masih polos. Mungkin kali lain. Semoga ;D
Salam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar